Politik Silaturahim

Ketika Politik Menjadi Jalan Persaudaraan

“Kalau bisa jadi kawan, kenapa harus jadi lawan?”

Disampaikan dalam Rakerda Partai Gerindra Provinsi Gorontalo, Oktober 2016

Ilustrasi Politik Silaturahim: Ketua DPD Gerindra Gorontalo menyampaikan pidato

Di tengah hiruk-pikuk politik yang sering dipenuhi pertengkaran, saling serang, dan pertarungan kepentingan, ada satu gagasan yang lahir dari Gorontalo pada Oktober 2016. Sebuah gagasan yang sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam: Politik Silaturahim.

Gagasan itu disampaikan Ketua DPD Partai Gerindra Gorontalo dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Partai Gerindra Provinsi Gorontalo. Saat itu, ia mengingatkan bahwa politik sejatinya bukan hanya tentang perebutan kekuasaan, melainkan tentang menjaga persaudaraan sesama anak bangsa.

Menurutnya, Indonesia sedang menghadapi ujian besar. Di satu sisi, bangsa ini terus berjuang mewujudkan cita-cita para pendiri negara: menghadirkan keadilan sosial, melindungi seluruh rakyat, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menyejahterakan masyarakat. Namun di sisi lain, praktik politik yang berkembang sering kali justru menjauh dari tujuan mulia tersebut.

Di tengah tantangan itulah Partai Gerindra hadir dan berjuang.

Dari Satu Kursi Menjadi Kekuatan Politik

Perjalanan Gerindra di Gorontalo bukanlah perjalanan yang instan.

Pada Pemilu 2009, partai ini hanya memperoleh satu kursi di DPRD Provinsi Gorontalo. Namun melalui kerja keras kader-kadernya, kepercayaan masyarakat terus tumbuh. Pada Pemilu 2014, Gerindra berhasil mengantarkan wakilnya ke DPR RI, mempertahankan kursi di DPRD Provinsi, dan meraih belasan kursi di DPRD kabupaten dan kota.

Lebih dari sekadar angka, keberhasilan itu melahirkan sesuatu yang lebih penting: lahirnya generasi muda Gorontalo yang mulai mengambil peran di panggung politik nasional.

Nama-nama seperti Tomy Ishak, Budyarto Makmur, La Isra, Rizki Mirza Karim, N. Syamsu Panna, Ismail Abdulkadir, Muhammad Amin, hingga sejumlah kader muda lainnya menjadi bukti bahwa anak-anak Gorontalo mampu berkiprah di berbagai lembaga negara.

Bagi Gerindra, politik bukan hanya soal memenangkan pemilu. Politik adalah proses menyiapkan generasi.

Saat banyak daerah masih sibuk memikirkan hari ini, Gerindra Gorontalo sudah mulai mempersiapkan diri menghadapi bonus demografi, ketika mayoritas penduduk Indonesia berada pada usia produktif. Dengan rata-rata usia masyarakat Gorontalo yang masih sangat muda, investasi terbesar sesungguhnya bukan pada bangunan atau proyek, melainkan pada manusia.

Orang Baik Harus Masuk Politik

Di bagian paling penting pidatonya, ia menyampaikan sebuah kalimat yang hingga kini masih relevan:

Orang-orang baik mesti masuk di politik. Kalau bukan orang baik, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Kalimat itu lahir dari kegelisahan terhadap rendahnya kepercayaan masyarakat kepada partai politik dan politisi. Dalam banyak kasus, satu kesalahan sering kali menghapus seribu kebaikan. Kabar buruk lebih cepat menyebar dibandingkan kabar baik.

Namun kondisi itu tidak boleh menjadi alasan bagi orang-orang baik untuk menjauhi politik. Justru sebaliknya.

Ketika ruang politik ditinggalkan oleh mereka yang memiliki integritas, maka ruang itu akan diisi oleh mereka yang tidak memiliki kepedulian terhadap kepentingan rakyat.

Karena itulah politik harus diisi oleh orang-orang yang siap mengabdi, bukan sekadar mencari jabatan.

Politik Silaturahim

Dari kegelisahan itulah lahir konsep Politik Silaturahim.

Politik Silaturahim bukan hanya menolak korupsi. Bukan hanya melayani masyarakat dengan baik. Lebih dari itu, Politik Silaturahim menjadikan politik sebagai sarana menjaga hubungan baik antar sesama warga bangsa.

  • Perbedaan pilihan politik tidak boleh memutuskan persaudaraan.
  • Perbedaan pandangan tidak boleh melahirkan kebencian.
  • Perbedaan kepentingan tidak boleh berubah menjadi fitnah.

Inspirasi itu sejalan dengan pesan yang selalu disampaikan oleh Prabowo Subianto:

Kalau bisa jadi kawan, kenapa mesti jadi lawan. Satu musuh terlalu banyak, seribu kawan terlalu sedikit.

Di tengah budaya politik yang sering diwarnai saling hujat, konsep ini menawarkan jalan yang berbeda. Jalan yang mengedepankan dialog dibandingkan permusuhan, persahabatan dibandingkan kebencian, dan persatuan dibandingkan perpecahan.

Gerindra Gorontalo menyebutnya dengan filosofi Jawa yang sarat makna:

Nglurug tanpa bolo, menang tanpa ngasorake.

Menyerang tanpa senjata. Menang tanpa merendahkan.

Sebuah prinsip bahwa kemenangan sejati bukanlah ketika lawan kalah, melainkan ketika persaudaraan tetap terjaga.

Melawan Politik Uang

Komitmen berikutnya adalah memerangi politik uang.

Bagi Gerindra Gorontalo, kemenangan yang dibeli dengan uang bukanlah kemenangan yang membanggakan. Kemenangan yang diperoleh melalui kecurangan juga bukan kemenangan yang bermartabat.

Karena itu, perjuangan politik harus dibangun di atas kejujuran, kerja keras, dan kepercayaan rakyat. Sebab cepat atau lambat, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.

Sebuah Ajakan untuk Generasi Muda

Pidato itu ditutup dengan sebuah ajakan yang sederhana tetapi penuh harapan.

Gerindra membuka pintunya bagi siapa saja yang ingin mengabdi kepada bangsa dan daerah. Terutama bagi generasi muda yang memiliki mimpi besar untuk Indonesia.

Pesannya jelas: politik bukan ruang yang harus ditakuti. Politik adalah alat untuk menghadirkan perubahan. Politik adalah sarana pengabdian.

Dan ketika politik dijalankan dengan semangat silaturahim, kejujuran, serta niat melayani rakyat, maka politik tidak lagi menjadi sumber perpecahan. Politik justru menjadi jembatan yang mempertemukan harapan-harapan rakyat dengan masa depan yang lebih baik.

Karena pada akhirnya, bangsa ini tidak membutuhkan lebih banyak permusuhan. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak persaudaraan.

Dan mungkin, dari Gorontalo, gagasan tentang Politik Silaturahim itu tetap relevan untuk Indonesia hari ini.