Gafar Tomutu

Dari Papua ke Gorontalo: Jalan Sunyi Gafar Tomutu Membangun Daerah

Sore itu di Tabongo, seorang pria berdiri di depan toko bangunannya. Ia menyapa karyawan satu per satu, memeriksa stok, sesekali bercanda. Tak ada gestur berjarak. Tak ada aura ingin dilayani. Yang ada hanya satu: rasa memiliki.

Dialah Gafar Tomutu.
Orang-orang mengenalnya hari ini sebagai Ketua Gerakan Muslim Indonesia Raya (Gemira) Kabupaten Gorontalo. Namun perjalanan menuju titik itu tidak lahir dari ruang nyaman. Ia ditempa jauh dari tanah kelahirannya.

1. Hijrah Panjang: Dari Papua Kembali sebagai “Pembangun”

Sembilan belas tahun di Papua bukan sekadar merantau. Bagi Gafar, itu adalah fase inkubasi diri. Ia menyebut dirinya “pemulung uang” — bukan dalam arti harfiah, tetapi sebagai metafora mengumpulkan pengalaman, jaringan, dan mental baja.

Ia sering menganalogikan perjalanannya dengan hijrah Rasulullah: membangun kekuatan di tempat lain sebelum kembali memperbaiki kampung halaman.

Ketika pulang ke Gorontalo pada 2014, ia tidak datang dengan tangan kosong. Ia membawa mentalitas bertumbuh. Tahun 2017, ia memulai langkah serius di Tabongo. Dari nol. Tanpa warisan modal besar. Tanpa privilese politik.

“Kalau saya kembali hanya untuk jadi beban, lebih baik saya tidak pulang,” begitu kira-kira prinsip yang ia pegang.

Di sinilah fase transformasi terjadi — dari perantau menjadi penggerak ekonomi lokal.

2. “Tuyul” Berseragam: Manusia sebagai Aset Tertinggi

Bisnisnya berkembang cepat. Desas-desus pun muncul. Ada yang bertanya-tanya, apa rahasianya?

Suatu hari, seorang warga datang dengan penasaran, menyinggung isu mistis yang beredar. Gafar tidak marah. Ia tidak tersinggung. Ia justru mengajak duduk, memberi rokok, dan meminta tamunya menenangkan napas.

Lalu ia menunjuk ke arah karyawannya.

“Ini tuyul saya. Lebih dari 60 orang. Kalau bukan karena mereka, saya bukan siapa-siapa.”

Jawaban itu sederhana, tapi dalam.

Bagi Gafar, kekuatan ekonomi bukan pada uang, melainkan pada manusia. Ia merekrut pemuda lokal, memberi mereka pekerjaan, tanggung jawab, dan martabat. Ia tidak ingin generasi muda menjadi “kelelawar” — berkeliaran tanpa arah di malam hari. Ia ingin mereka menjadi tulang punggung keluarga.

Filosofi ini kelak ia bawa ke ranah sosial dan politik: membangun manusia sebelum membangun proyek.

3. Bos Kecil, Tapi Berdaulat

Terinspirasi wejangan pengusaha legendaris Bob Sadino, Gafar memilih jalan yang tidak populer: menjadi “bos kecil” daripada “anak buah besar”.

Ia menolak zona nyaman profesi yang stabil demi membangun usaha sendiri. Bagi dia, sekecil apa pun usaha, selama berdiri di atas kaki sendiri, itu adalah bentuk kedaulatan.

Mentalitas ini membentuk cara berpikir politiknya. Ia tidak ingin menjadi figur yang hanya mengikuti arus “baku siku”. Ia ingin hadir dengan kemandirian moral — berdiri bukan karena ditopang kepentingan, tetapi karena rekam jejak.

4. Diplomasi Diskon: Referral Marketing yang Spiritual

Di toko bangunannya, pelanggan sering mendapat potongan harga mendadak atau bonus barang. Secara hitungan cepat, itu tampak seperti kerugian.

Namun bagi Gafar, itu investasi reputasi.

Ia percaya satu kebaikan akan beranak-pinak. Pelanggan yang puas akan menjadi “iklan berjalan”. Nama baik lebih mahal dari baliho.

Strategi ini bukan hanya bisnis, tapi filosofi. Memberi sebelum meminta. Menanam sebelum memanen. Dalam jangka panjang, ia percaya reputasi adalah mata uang paling mahal dalam politik.

5. Politik Tanpa Janji, Kerja Tanpa Gimik

Mengapa baru terjun ke politik pada 2024?

Karena ia percaya masuk gelanggang tanpa kesiapan adalah bunuh diri. Ia kerap mengutip strategi “Perang Parit” Rasulullah: ukur kekuatan, siapkan pertahanan, pahami medan.

Di ranah publik, ia memilih pendekatan yang tidak populer: tidak menebar janji proyek besar yang bukan kewenangannya. Ia fokus pada fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran.

Contoh paling nyata adalah layanan Rukun Duka — penyediaan tenda dan kursi gratis bagi warga yang berduka.

Baginya, bantuan nyata di saat krisis emosional jauh lebih bermakna daripada uang sesaat yang habis tanpa bekas.

Babak Baru: Memimpin Gemira Kabupaten Gorontalo

Kini, sebagai Ketua Gerakan Muslim Indonesia Raya Kabupaten Gorontalo, Gafar tidak hanya berbicara tentang filosofi.

Memasuki Ramadan 1447 Hijriah, Gemira aktif menggelar pembagian takjil dan buka puasa bersama kader. Bukan sekadar agenda seremonial.

Ia turun langsung ke jalan bersama Sekretaris Gemira Yanto Koli. Menyapa pengendara mobil, bentor, sepeda motor. Tidak ada sekat. Hanya sapaan, doa, dan senyum.

Bagi Gafar, politik harus terasa. Bukan hanya terdengar.

Penutup: Kerja Cerdas, Bukan Sekadar Keras

Perjalanan dari Papua ke Gorontalo membentuk satu kesimpulan dalam diri Gafar Tomutu: perubahan tidak lahir dari retorika, tetapi dari kapasitas.

Ia membangun ekonomi sebelum membangun citra.
Ia memberdayakan manusia sebelum berbicara kekuasaan.
Ia memilih reputasi jangka panjang daripada sensasi sesaat.

Filosofinya sederhana namun tajam:
Jangan sibuk bertanya apa yang daerah beri kepada kita. Tanyakan apa yang sudah kita beri kepada daerah.

Dalam lanskap politik yang sering gaduh, Gafar Tomutu memilih jalan sunyi: membangun dari bawah, pelan tapi pasti. Dan mungkin, justru dari sanalah perubahan yang paling kokoh lahir.