Nirwan Due

Berawal dari “Calon Poyimumuto”

Ada banyak politisi yang lahir dari perencanaan matang. Ada yang dibesarkan oleh organisasi besar, dipromosikan sejak lama, bahkan diprediksi akan menjadi bintang politik masa depan.

Tapi kisah Nirwan Due berbeda.

Kalau mengikuti logika politik, mungkin namanya tidak pernah masuk hitungan.

Pada Pemilu 2014, Partai Gerindra menempatkannya di nomor urut 9 dari 9 caleg di Dapil Marisa–Duhiadaa–Buntulia–Patilanggio. Sebuah dapil yang oleh banyak orang disebut sebagai “dapil neraka”. Belasan tokoh besar bertarung di sana untuk memperebutkan hanya sembilan kursi DPRD Pohuwato.

Di atas kertas, peluang Nirwan Due nyaris tidak terlihat.

Bahkan ada yang menganggap pencalonannya hanya sekadar pelengkap daftar.

Istilah Gorontalonya: caleg poyimumuto.

Caleg yang ada karena memang harus ada.

Tapi politik sering kali tidak berjalan sesuai hitungan manusia.

Ketika hasil pemungutan suara diumumkan, banyak orang terkejut. Di antara nama-nama besar yang bertarung sengit, muncul satu nama yang berhasil lolos menuju kursi DPRD Pohuwato.

Nirwan Due.

Tidak berhenti di situ.

Pada Pemilu 2019, ribuan rakyat kembali mencoblos namanya dan mengantarkannya duduk untuk periode kedua.

Lalu datang Pemilu 2024.

Hasilnya sama.

Masyarakat kembali memberikan kepercayaan.

Tiga kali pemilu. Tiga kali terpilih.

Artinya, selama kurang lebih 15 tahun terakhir, Nirwan Due menjadi salah satu wajah yang terus dipercaya rakyat Pohuwato untuk memperjuangkan aspirasi mereka di DPRD.

Padahal, kalau mendengar pengakuannya sendiri, semua itu tidak pernah masuk dalam rencana hidupnya.

“Otutu lomao, tidak terbersit sebelumnya di otak saya untuk jadi anggota dewan. Tidak pernah terpikir lah. Tapi takdir yang membawa saya ke sini,” tutur Nirwan dengan gaya khasnya yang sederhana.

Barangkali justru karena kesederhanaan itulah masyarakat merasa dekat dengannya.

Sebab di tengah dunia politik yang sering dipenuhi pencitraan dan formalitas, Nirwan tetap menjadi dirinya sendiri.

Ia tidak pernah berusaha terlihat rumit.

Tidak juga berusaha menjadi orang lain.

Ia hanya menjadi Nirwan Due.

Ketika ditanya apa rahasia bertahan selama tiga periode sebagai anggota dewan, jawabannya bahkan jauh lebih sederhana daripada yang dibayangkan banyak orang.

Tidak ada teori politik yang rumit.

Tidak ada strategi kampanye yang panjang.

Tidak ada resep rahasia.

“Doa ortu bro. Hanya itu modalku, dan hanya itu pula modalmu di politik,” katanya sambil tersenyum.

Jawaban yang mungkin terdengar sederhana.

Tetapi justru di situlah letak kekuatannya.

Mereka yang mengenal Nirwan Due tahu satu kelebihannya yang sulit ditiru orang lain.

Ia selalu bisa baku cocok bahasa dengan siapa saja.

Berhadapan dengan orang tua, nyambung.

Bersama teman sebaya, masuk.

Bercanda dengan anak-anak, juga asyik.

Tidak ada jarak.

Tidak ada sekat.

Orang merasa sedang berbicara dengan keluarga sendiri.

Mungkin karena itulah masyarakat terus mempercayainya dari satu pemilu ke pemilu berikutnya.

Dan ada satu catatan kecil yang menarik.

Foto yang menghiasi tulisan ini ternyata bukan foto yang mudah didapatkan.

Berkali-kali diminta, berkali-kali pula tertunda.

Maklum.

Saat foto itu diminta, Nirwan Due sedang berada di rumah duka salah seorang konstituennya yang baru saja meninggal dunia.

Barangkali di situlah kita bisa melihat siapa sebenarnya sosok yang satu ini.

Ketika banyak orang sibuk mengurus citra, ia justru sedang berada di tengah-tengah masyarakat yang berduka.

Sebuah kebiasaan yang mungkin menjelaskan mengapa “caleg poyimumuto” itu akhirnya dipercaya rakyat selama tiga periode berturut-turut.

Karena dalam politik, kadang yang paling kuat bukan yang paling banyak bicara.

Melainkan yang paling sering hadir.